Jangan Takut, Teruslah Memberitakan Firman Dan Jangan Diam!

(Kisah Para Rasul 18:9–10)

Ayat diatas adalah pesan Tuhan yang diberikan kepada Rasul Paulus ketika Paulus berada di kota Korintus, salah satu kota yang terbesar dan termakmur serta terpenting dalam kekaisaran Romawi, dengan penduduk sekitar 400.000 jiwa. Kota besar ke empat setelah Roma, Iskandaria dan Anthiokia dengan pelabuhan yang ramai karena berlabuhnya kapal perdagangan dari seluruh dunia, di mana kejahatan, okultisme serta berbagai kepercayaan saling berjumpa dan bercampur dari seluruh penjuru dunia.

Paulus tinggal di kota Korintus selama 1,5 tahun dan akhirnya mendirikan salah satu jemaat yang terbesar dalam pergerakan penuaian dan penanaman gereja baru di kota Korintus; sekalipun ada banyak tantangan, hambatan bahkan penganiayaan karena kehidupan orang Korintus yang amoral, okultisme, kemesuman, penyembahan berhala, perceraian dalam pernikahan, masalah gender bahkan juga rasul-rasul yang palsu juga kaum berhikmat (cendikiawan dengan filsafatnya) serta kehidupan jemaat yang tidak senonoh di dalam jemaat Korintus, tetapi juga ada jemaat-jemaat yang mengasihi dan hidup dalam kebenaran Yesus Kristus.

Situasi yang sama juga dihadapi oleh gereja Tuhan dan orang percaya pada masa kini, yang hidup ditengah-tengah jemaat dan dunia di mana banyak anak Tuhan yang masih hidup dalam amoral dan praktek-praktek kehidupan sinkretisme (melakukan tindakan okultisme di tengah kepercayaan kepada Yesus Kristus) serta dunia sekitar yang makin amoral dan keduniawian.

Pesan Tuhan yang hari-hari ini menjadi tuntunan melalui Bapak Gembala Sidang melalui Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Ada suatu potensi untuk menerobos halangan dan hambatan di dalam kota-kota apabila Roh Kudus memenuhi kehidupan pribadi orang percaya.

Melalui Kisah Para Rasul 18:9-10 ada beberapa hal yang perlu kita pahami bagi diri orang percaya untuk menjadi saksi-saksi Kerajaan Allah di tengah-tengah komunitasnya :

1. JANGAN TAKUT

Ketakutan adalah salah satu bentuk tekanan yang kuat di dalam pikiran dan jiwa orang percaya untuk menghambat dan menghalangi seseorang bersaksi akan Kebenaran Yesus Kristus, ketakutan mematikan roh yang menyala untuk menerangi dan menggarami dunia ini dengan Injil Yesus Kristus.

Allah mengetahui keadaan jiwa Paulus yang diliputi dengan ketakutan oleh karena situasi dan keadaan orang-orang Korintus sebagai sasaran pemberitaan Injil, dengan berbagai alasan-alasan yang diciptakan dalam alam pikirannya sehingga takut untuk menyebarkan Kasih Kristus melalui kematianNya di atas kayu salib yang menyelamatkan manusia dari hukuman maut.

Ketakutan ini juga yang sering melanda para anak Tuhan di tengah-tengah dunia untuk menyebarkan berita Injil yang menjadi kekuatan Allah untuk menyelamatkan manusia.

II Timotius 1:7-8 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita …”

Kebenaran ini yang mengilhami kita untuk menghancurkan setiap perasaan takut yang menghambat dan menghentikan mulut orang percaya untuk bersaksi dan langkah kaki untuk menjangkau jiwa dimenangkan dan diselamatkan dari maut. Pesan Tuhan untuk Jangan Takut juga diberikan bagi kita pada saat ini untuk berubah menjadi kekuatan dan keberanian oleh karena kasih kita kepada Kristus dan jiwa-jiwa yang terhilang dan tersesat untuk diselamatkan oleh Injil Yesus Kristus.

2. TERUSLAH MEMBERITAKAN FIRMAN

Paulus diperintahkan oleh Tuhan Yesus untuk terus memberitakan Firman kepada orang-orang di Korintus, di tengah situasi yang menekan dia untuk tidak lagi bersaksi. Suatu perintah yang dinamis untuk terus bergejolak dalam jiwa, supaya sebagai anak-anak Tuhan terus menerus memposisikan diri sebagai saksi yang memperkatakan Firman Tuhan, seperti yang terdapat dalam II Timotius 4:2 ”Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Teruslah dan teruslah untuk bersaksi karena kedatangannya sudah di ambang pintu, sudah dekat dan biarlah semakin banyak orang yang mendengar dan berseru kepada nama Tuhan supaya diselamatkan (Roma 10:13–14). Bukankah kerinduan Tuhan Yesus tidak ada satupun yang binasa melainkan beroleh keselamatan, keluarga, teman, sahabat, kolega dan komunitas sekitar kita, berbagai kelompok profesi dijangkau bagi Kerajaan Allah.

Waktunya sudah sangat singkat sehingga waktu yang ada merupakan kesempatan yang baik, kesempatan yang krusial bagi anak-anak Tuhan untuk lebih sering, lebih banyak bersaksi dengan menggunakan berbagai media apapun di mana ada orang yang mendengar dan menangkap berita keselamatan dalam Yesus Kristus.

Rindukan api Tuhan membakar hati dan jiwa kita untuk membuat roh kesaksian itu menggelora dari dalam jiwa kita, seperti yang terjadi dengan Nabi Yeremia di mana dari dalam jiwanya ada api yang membakar sehingga dirinya harus memberitakan Firman Tuhan atas bangsanya. Inginkan api-Nya membakar jiwa untuk semakin dibersihkan dan menggelorakan roh kita untuk terus dan terus bersaksi.

3. JANGAN DIAM

Diam dan tidak berbicara atau bersaksi Injil Kerajaan Allah serta tidak berbuat sesuatu apapun sebagai anak-anak Tuhan adalah sebuah pilihan yang dikecam oleh Tuhan, sehingga pesan Tuhan untuk Paulus berisi perkataan “Jangan Diam.” Mendiamkan Injil, mendiamkan kejahatan yang makin merajalela, mendiamkan pornografi yang merambah dunia anak-anak, mendiamkan pertikaian, mendiamkan peredaran narkoba yang sudah merasuki anak Sekolah Dasar; pesan Tuhan, “Jangan Diam.”

Ini semua adalah pekerjaan kegelapan yang ingin menguasai dunia dan menghancurkan generasi yang menjadi penyembah Tuhan, jangan diam dan lakukan sesuatu agar kerajaan Allah makin bersinar, menerangi kegelapan yang ada di sekitar kita.

Lakukan sesuatu untuk mencegah, menghambat, menghancurkan dan bahkan mengubah atmosper di sekitar kita dari atmosper kegelapan menjadi terang dengan kesaksian, doa, pujian dan penyembahan, doa keliling serta perbanyak kubu-kubu doa sehingga iklim di sekitar kita berubah dipenuhi dengan hadirat Allah. Dalam Tahun Aleph Ayin ini Kerajaan Allah akan mencurahkan RohNya ke tempat-tempat di mana ada kekeringan dan kehausan rohani .

Yesaya 44:3 “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.”

Jangan diam, lakukan sesuatu supaya terjadi perubahan iklim rohani, pertobatan, penuaian, revival dan akhirnya transformasi di sekitar komunitas Anda, ini waktunya dan moment yang tepat untuk anak-anak Tuhan bangkit dan berbuat sesuatu.

4. ALLAH MENYERTAI

Hati Allah yang penuh perhatian dan kepedulian terhadap anak-anakNya ditunjukkan melalui penyertaan-Nya dalam situasi dan kondisi apapun. Allah mengerti bahwa Paulus akan mengalami kegentaran ketika melayani dan memberitakan Injil di Korintus, olehnya Allah memberikan pesan bahwa Dia menyertai.

PenyertaanNya dinyatakan dengan kemuliaanNya, KuasaNya, BerkatNya, MujizatNya serta tanda-tanda ajaibNya yang dinyatakan dalam kehidupan, pekerjaan, aktivitas yang dilakukan anak-anakNya.

Roh Kudus sudah dicurahkan dan manifestasi kuasa dinyatakan ketika kita bersaksi, melayani, mendoakan, memberitakan firmanNya dan menumpangkan tangan kepada orang yang sakit serta melakukan peperangan rohani.

Kisah Para Rasul 6:8 “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.”

Allah menyertai merupakan peneguhan buat kita bahwa kita tidak sendiri, penyertaanNya menjadikan kita mengalami pertolongan, keselamatan di tengah bahaya bahkan mengalami mujizatNya. Allah menyertai kita dalam semua segi dan sisi dalam kehidupan kita.

Jangan takut, teruslah memberitakan Firman dan jangan diam karena Allah menyertai juga merupakan pesan bagi gereja Tuhan masa kini di tengah-tengah krisis, situasi yang makin kelam untuk bertindak dan menyuarakan kebenaran Injil Yesus Kristus, sampai perubahan bahkan revival itu terjadi dalam generasi ini.

PERSEMBAHAN

(Roma 12:1)

Dalam Roma pasal 1-11 Paulus bicara secara panjang lebar mengenai apa artinya anugerah keselamatan yang kita terima di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Hidup kita bukan karena kita layak di hadapan Tuhan, bukan karena kita baik di hadapan Tuhan, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan, maka Roma 12

• Ayat 1-2 berbicara tentang bagaimana respons dan sikap kita kepada Tuhan.

• Ayat 3 berbicara mengenai bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri.

• Ayat 4 dan selanjutnya bicara mengenai bagaimana sikap kita dalam melayani orang lain.

Roma 12:1 merupakan rangkaian harapan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Dan di ayat 1, Paulus yang tahu betul aturan-aturan tentang korban, yaitu bahwa :

• korban ini dibawa dalam keadaan hidup ,

• dengan kondisi syarat-syarat ketat tanpa cacat,

• kemudian korban ini dibunuh.

Ayat 1 dari Roma 12, boleh kita pikirkan dan renungkan sebagai suatu acuan dan titik tolak perbaharuan dalam mempersembahkan korban.

Pembaharuan yang diserukan Paulus berpangkal pada ‘kematian Kristus’ sebagai ‘Anak Domba Allah’ yang dikorbankan, kudus dan tak bercacat celah di hadapan Bapa. Atas dasar inilah, Paulus kemudian menyerukan agar, jemaat di Roma memperhatikan dengan seksama tentang;

• bagaimana mereka harus hidup, dan

• bagaimana kehidupan peribadatan mereka

Karena itu rasul Paulus lalu menyerukan agar mereka mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Dalam hal ini ini, Paulus mengacu pada sisi hidup setiap umat Allah. Memang Roma 12:1 menyebut ’tubuh’ namun harus dimengerti sebagai sebutan yang merujuk pada totalitas atau keseluruhan aspek hidup manusia, baik tubuh, jiwa maupun roh.

Dan Paulus menyebutkan syarat korban persembahan yang dikehendaki Bapa, yakni hidup, kudus dan yang berkenan.

Bagaimana dengan jemaat Tuhan? Allah juga menghendaki hal itu daripada kita. Karena itu persembahkanlah tubuhmu (seluruh aspek kehidupan) dengan syarat:

1. HIDUP

Dalam tradisi korban, hewan korban tidak dibawa dalam kondisi ‘mati’ melainkan dalam kondisi yang ‘hidup’. Ketika kita memahaminya berkaitan dengan kehidupan manusia, maka Allah menginginkan kita mempersembahkan seluruh totalitas hidup kita: diri kita (tubuh, jiwa, dan roh), waktu kita, harta kita, selama atau semasa kita hidup. Karater, integritas, antisipasi, impian hidup dalam bekerja dan melayani - sebagai suatu persembahan yang utuh bagi Dia.

2. KUDUS

Pada point 1 disebutkan tentang syarat pertama dari korban, yakni hidup. Di point 2 ini, korban juga harus kudus/holy/hagios. Dalam konteks Perjanjian Lama, aspek ketakbercacatan fisik menjadi ukuran. Pertanyaannya; mungkinkah kita mampu mencapai titik ini? Tidak mungkin. Namun kita beroleh anugerah dari Tuhan yaitu kita dikuduskan oleh Dia semata. Tuhan Yesus berdoa dalam Yoh 17 “Bapa, mereka memang bukan dari dunia ini, namun mereka masih tinggal di dalam dunia ini. Itu sebab kuduskanlah mereka di dalam kebenaran …”

Akhir zaman ini Roh Kudus dicurahkan dengan hebat dalam rupa ‘api’ dan ‘angin’. Api ini berfungsi untuk membakar, memperbaharui, mentransform, memurnikan, yang tidak kudus menjadi kudus.

Efesus 5:26 “untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan (yaitu) Firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”

Tuhan Yesus yang lakukan; bukan kita, Dia. Dari Dia, Oleh Dia, Kepada Dia! Respons kita yang tepat akan menghasilkan proses ini berjalan dengan lancar dalam waktuNya. Point pentingnya di sini adalah: maukah kita dimandikan oleh Tuhan? Apakah kita didapati telanjang waktu dimandikan? Artinya apakah semua sisi keberadaan kita terbuka/telanjang untuk dimurnikan oleh Dia? Ini suatu proses sepanjang umur hidup kita, sehingga mempelaiNya ini jadi cemerlang tanpa cacat atau kerut atau serupa itu - kudus adanya.

3. BERKENAN

Bagaimana korban dapat dianggap berkenan di hadapan Tuhan? Tentu harus hidup dan kudus. Bila ini terpenuhi maka korban dianggap layak atau berkenan. Bukankah demikian juga dengan kita? Ingatlah bahwa syarat-syarat di atas adalah standarnya Tuhan Yesus.

Atau dengan kata lain tidak ada yang tahu bagaimana standar kita hidup di hadapan Tuhan. Satu pertanyaan, bagaimana orang lain tahu bahwa kita hidup kudus?

Salah satu jawabannya adalah lihatlah karakternya, atau boleh kita katakan lihatlah karakterku atau lihatlah bagaimana aku hidup.

Saudara-saudara yang terkasih, kita tidak hidup di dunia maya melainkan di dunia nyata. Sebab itu kita tidak dapat menipu sesama kita soal bagaimana kita hidup. Karena itu, berikanlah seluruh hidupmu semasih hidup dalam kondisi yang tak bercacat cela alias kudus, yang nyata dalam karakter kita. Berbuah!

Bukankah ini yang dikehendaki Tuhan?

Translate