Yabes Mengalami Multiplikasi dan Promosi

Mungkin banyak di antara kita di tahun 2010 yang sudah dihajar dan didisiplinkan oleh Tuhan seperti hajaran orangtua kepada anaknya, hajaran ini kita alami melalui kelemahan fisik atau melalui masalah yang dihadapinya atau memang pendisiplinan melalui bapa rohani kita seperti kisah tentang Saul-Daud yang pernah disampaikan oleh Gembala Sidang kita, semua ini biarlah kita terima dengan ucapan syukur, rendah hati, minta pengampunan tetapi juga harus evaluasi diri, kalau sudah dihajar maka adalah bagi orangtuanya yang selanjutnya merangkul, merawat anaknya, demikian pula Tuhan pasti memulihkan kita kembali, tidak akan berlama-lama Tuhan membiarkan kita dalam "keadaan pendisiplinan", kita pasti dipulihkan dan diberkati asalkan kita tidak memberontak. Sebab Tuhan sedang menggenapi Maleakhi 4:6 dan Lukas 1:16-17 yakni mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan, supaya Tuhan tidak menghajar bumi ini.

Setelah masa ini berlalu, maka kita akan dipulihkan dan diberkati kembali dalam kelimpahanNya dan berlanjut dipromosikan dan akan alami multiplikasi seperti yang telah disampaikan Gembala Sidang kita, jadi di tahun 2011 ini kita akan alami Tahun Multiplikasi dan Tahun Promosi.

Mengawali tahun ini Tuhan mengingatkan kembali tentang doa dan sikap kegairahan pengharapan seperti Yabes kepada Tuhan.

"Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan." tetapi "Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu." (1 Tawarikh 4:9-10)

Dalam kitab 1 Tawarikh Pasal 1-8 ini tercatat sekitar 600 nama-nama dari keturunan Adam sampai Israel namun Tuhan berhenti disatu nama yakni nama Yabes.

Yabes tidak dicatat sebagai orang yang bertalenta khusus, ia adalah orang biasa yang punya kesaksian yang luar biasa. Kita juga demikian, kita ini semua orang percaya yang biasa-biasa saja tetapi punya kesaksian kehidupan yang luar biasa bersama Tuhan Yesus dan lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya. Mengapa?

Ada sesuatu yang berbeda tentang orang ini, ia mengalami terobosan dalam hidupnya, ada kegairahan sikap optimis dalam bathinnya, yang akhirnya membawa kuasa dan kemuliaan Tuhan dalam karier kehidupannya.

MENGAPA KEHIDUPAN YABES BISA DIUBAH OLEH TUHAN?

1. Sebab Yabes adalah orang yang rajin berdoa

Dia berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan sanggup merubah skenario dari hidup sengsara berubah menjadi hidup dalam kelimpahan.

Dia berdoa: "Tuhan, pakailah aku! Ada sesuatu yang cacat, ada kelemahan, ada kesalahan dalam hidupku di masa yang lalu, tapi aku tidak mau terpengaruhi akan hal itu, perbesar Tuhan kapasitasku, perbesar Tuhan wilayah teritorialku, aku tidak mau jadi orang biasa-biasa saja, aku mau berkembang dengan Tuhan."

Dan ini kunci rahasia Yabes untuk melepaskan kelemahan, cacat dan kekurangannya lalu menggapai sesuatu yang besar di masa depan.

Kalau kita dapatkan pengurapan Roh Kudus maka kita akan dipakai dengan otoritasNya. Semakin kita haus dan dahaga maka kita akan temukan kepuasan dalam Kristus. Ingat Yesus pernah berfirman: "... Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4:13-14)

Doa yang disertai dengan keyakinan bahwa hanya melalui Tuhan-lah diri kita akan dipulihkan, dan mengalami berkat yang berkelimpahan.

2. Yabes tidak takut dengan keadaan kecacatannya

Pada awalnya Yabes memiliki kecacatan, mungkin dalam mental dan fisik, ia dilahirkan dalam "kesakitan", namun ia tidak rendah diri (minder).

Kalau kehidupan kita diliputi dengan rasa malu, pasti kita akan menutup diri, seperti Adam pada waktu ia jatuh dalam dosa, ia malu, minder dan bersembunyi dari hadapan Tuhan.

a. Kisah Adam

Adam berkata: "Aku takut dan malu bertemu dengan Tuhan. Aku merasa malu, takut melakukan sesuatu bagi Tuhan, tidak berani lagi." Sifat tertutup akan mendominasi kita.

Kata ‘kematian’ dalam surat Ibrani 2:14-15 artinya meninggalkan jiwa dari tubuh kita. Ini namanya kematian jasmani.

Kematian bisa dirangkumkan dalam satu kata yakni gagal atau kegagalan. Bangkrut adalah gagal dalam keuangan, perceraian adalah kegagalan dari pernikahan. Kita paling takut kalau berurusan dengan kegagalan.

Dalam ayat 14 dikatakan; iblis yang memegang kita untuk selalu punya rasa ‘takut gagal’.

Iblis selalu mencuri potensi yang ada di dalam kita. Talenta kita harus keluar, tetapi dengan kekuatan ketakutan iblis akan menghalangi kita untuk mengeluarkan sesuatu yang berpotensi dalam hidup kita. Kuasa Tuhan akan mengalir kalau kita tidak punya rasa takut, kita akan memperoleh hikmat untuk selesaikan setiap tugas pekerjaan. Kita dapatkan semua kalau kita tidak ada rasa takut. Iblis akan selalu hadirkan rasa takut dalam hidup kita.

b. Kisah Ayub

Kisah Ayub juga demikian, hanya dalam sehari Ayub kehilangan kekayaan, anak-anaknya, kehilangan segala-galanya. Ini badai besar yang diizinkan Tuhan.

"Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman, aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." (Ayub 3:25-26)

Inti cerita tentang Ayub bukan soal penderitaan, sebab penderitaannya hanya selama 1 tahun saja, namun Tuhan berkehendak ia harus melangkah di dalam iman. Bukankah sampai hari ini orang Kristen masih banyak yang takut akan nasib dalam hidupnya di masa yang akan datang?

Kita bisa ‘menarik’ pengaruh yang jelek dari rasa ketakutan (seperti magnet) demikian pula dengan "iman positif"; itu juga seperti magnet yang bisa menarik sesuatu yang besar dan spektakuler.

c. Kisah Murid-murid Yesus

Kisah tentang murid-murid Tuhan Yesus ketika di tengah malam sedang berada di sebuah danau dan mereka harus menghadapi angin sakal. (Markus 6:45-52). Tuhan izinkan badai datang agar supaya mereka belajar menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Yesus datang bukan untuk menolong mereka tapi menguji. Dia berjalan diatas air mau melewati mereka. Ketika mereka tidak berhasil menghadapi badai itu, barulah Yesu menolong mereka.

Yesus selalu berkata, mengapa kamu takut? Masalahnya bukan angin sakal-nya tapi rasa takutnya itu, sebab takut itu adalah alat canggih di tangan si iblis untuk mematikan iman, mematikan langkah kita, ibaratnya: pikiran kita ingin maju tapi kaki kita rasanya melekat di tanah dan tidak dapat bergerak maju, padahal dalam Kitab Wahyu dicatat 7x supaya kita menjadi seorang pemenang.

Kisah tentang perumpamaan talenta (Matius 25:14-30), karena takut ia menguburkan talentanya. Mungkin pemikiran hamba itu bagaimana nanti kalau rugi, bagaimana nanti kalau gagal, bagaimana kalau begini begitu (kuatir terus), masih ditambah lagi perasaan bahwa tuannya kejam.

Waktu kita takut kita akan selalu menyalahkan orang sekitar kita. Kita selalu mencari alasan untuk menyalahkan orang lain, karena kita dalam ketakutan.

Tuhan tidak pernah izinkan kita masuk dalam masalah kalau Tuhan tidak membuka jalan / solusi bagi kita.

Barangsiapa takut maka ia belum sempurna didalam kasih padahal Allah itu Kasih. (1 Yohanes 4:16-18). Kalau kita punya kasih yang dalam kepada Tuhan pasti kita tidak punya rasa takut.

Pertanyaannya adalah seberapa besar kasih kita kepada Tuhan? Apakah kita bisa memiliki kasih dalam kepercayaan seperti Yesus waktu akan menerima cawan penderitaan? Karena kasihNya kepada Bapa untuk melaksanakan visi Bapa, Yesus korbankan diriNya dan mati di atas kayu salib.

Waktu kita yakin akan kasih kita kepadaNya maka kasihNya akan sempurna dalam hidup kita. Iman bisa bekerja dengan sempurna hanya apabila kita punya keyakinan memiliki kasih kepada Bapa di Surga. Tuhan ada dalam hidup kita, kita bisa mempercayai Dia sepenuhnya.

Melangkah seperti Yabes dalam tahun Multiplikasi dan Promosi, berdoa dalam kegairahan dengan memelihara iman keyakinan akan janjiNya dan tidak takut, bersama Tuhan kita akan lakukan perkara yang besar, bahkan lebih besar dari pada yang Yesus pernah lakukan di bumi ini.

MENJADI SAKSI KRISTUS DIMULAI DARI KELUARGA

Pesan Tuhan yang amat sangat, sangat, sangat kuat hari-hari terakhir ini ialah: ”Tuhan Yesus akan datang segera.” Karena itu kita harus jadi saksi Kristus. Tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus kedua kali dalam Matius 24, hampir semuanya telah digenapi, melalui kejadian dan peristiwa yang terjadi di dunia pada hari-hari terakhir ini. Bencana alam silih berganti terjadi, baik di Indonesia juga di belahan bumi lain. Tingkat kejahatan juga meningkat baik segi kwalitas dan kuantitasnya.

Menjadi saksi di pengadilan ialah seseorang yang telah mengalami satu kejadian atau perkara, kemudian menceriterakan di depan hakim, apa yang dilihat dan apa yang diketahuinya, tanpa menambah dan menguranginya. Demikian juga menjadi saksi Kristus berarti mengalami sesuatu dengan Tuhan seperti keselamatan, pertolongan, anugerah, perlindungan, penyertaan, mujizat dari Tuhan. Tetapi juga mengalami proses yang Tuhan ijinkan. Ketika hal-hal tersebut disaksikan, maka dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Menjadi saksi Kristus harus diawali dari keluarga. Kepribadian dan karakter seseorang tidak dapat dilepaskan dari pendidikan keluarga yang diterima. Keluarga adalah tempat yang Tuhan siapkan untuk menabur dan menanamkan nilai-nilai kehidupan (Ulangan 6:6-7). Keluarga adalah sekolah kehidupan yang pertama dan yang terutama. Karena itu Suami-Isteri, Ayah dan Ibu sebagai inti keluarga sangatlah berperan dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak mereka.

Ayah dan Ibu, harus menjadi kesaksian yang hidup melalui tutur katanya yang sama dengan pola kehidupannya. Seorang anak akan mengalami kesulitan jika melihat ke dua orangtuanya mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dilakukannya. Tetapi orangtua yang memiliki integritas yang tinggi, akan jauh lebih mudah mentransfer nilai-nilai kebenaran kepada anaknya. Seorang anak juga harus mengawali kesaksian hidup yang baik dari dalam keluarganya. Melalui ketaatannya dan hormat terhadap orangtua.

Ketika saya masih kecil, kedua orangtua saya selalu mengajarkan untuk rajin berdoa dan membaca Alkitab. Saat saya melihat kedua orangtua saya juga rajin berdoa dan membaca Firman Tuhan, maka dengan mudah saya mengikuti teladan mereka. Karena tindakan lebih kuat pengaruhnya dari pada hanya sekedar kata-kata.

Pada umumnya ada empat kelompok orangtua di dunia ini.

Pertama: Kelompok yang mampu memberikan keuangan yang cukup, tetapi tidak mampu memberikan waktunya terhadap anak-anaknya.

Kelompok ini kaya secara ekonomi, tetapi mereka dipenuhi dengan berbagai kesibukan dan mereka menyerahkan anak-anaknya untuk dibesarkan oleh orang-orang bayaran seperti pengasuh, pembantu, sopir, tukang kebun, jurumasak, dan sebagainya. Mereka memiliki persepsi dasar bahwa membesarkan anak berarti sekedar ”membayar”. Makin banyak yang mereka bayar, mereka merasa makin tuntas memainkan perannya sebagai orangtua. Boleh jadi mereka dibesarkan dengan cara yang seperti itu juga, sehingga mereka mengikuti pola yang mereka alami. Orangtua dalam kelompok ini menempatkan anak-anak mereka di dompet mereka. Anak-anak mereka menikmati fasilitas yang paling lengkap, mainan yang tidak pernah habis, pakaian bagus, sekolah yang terbaik. Hanya sayang orangtua tidak punya waktu dengan mereka.

Kedua : Kelompok yang tidak mampu memberikan uang dan juga tidak mampu meluangkan waktu untuk bersama-sama.

Inilah kelompok orangtua yang miskin secara ekonomi serta harus meninggalkan dan menitipkan anak-anaknya kepada tetangga, orangtua / mertua, ketika mencari nafkah. Pasangan pembantu dan sopir angkot, pekerja bangunan yang menitipkan anak mereka di kampung merupakan contoh kelompok ini. Anak-anak dalam kelompok ini hidup dalam serba kekurangan. Mereka dibesarkan kekurangan kasih dari orangtua. Perjumpaan dengan orangtua hanya pada hari-hari besar tertentu.

Ketiga : Kelompok yang tidak terlalu mampu memberikan uang, tetapi mampu memberikan waktu.

Inilah kelompok orangtua yang rajin mengantar anak-anak mereka ke sekolah, tempat kursus, berlibur bersama, makan malam bersama, bermain bersama, membaca bersama, dan menemani dan bercerita kepada anak sebelum tidur. Orangtua dalam kelompok ini menempatkan anak-anak di hati mereka. Mereka melihat apa atau siapa yang bisa membuat anak-anak mereka tertawa terpingkal-pingkal. Mereka juga tahu apa atau siapa yang membuat buah cinta mereka menangis tersedu-sedu. Anak-anak memiliki banyak kenangan bersama dengan orangtua kelompok ini. Perhatian yang melimpah dari orangtua membuat mereka lebih berkembang kecerdasan emosisya.

Keempat : Kelompok yang mampu memberikan fasilitas dan juga bersedia memberikan waktu bersama anak-anak dalam banyak kesempatan (kaya waktu).

Inilah orangtua yang paling ideal. Mereka tidak hanya memberikan fasilitas, melainkan juga perhatian yang melimpah. Sungguh beruntung anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua jenis ini. Memang kelompok orangtua seperti ini tidak banyak.

Menjadi saksi Kristus harus diawali dari keluarga, yakni oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Sebagai orangtua, dalam kelompok manakah keberadaan kita ?

• Kaya secara ekonomi, tetapi miskin waktu dengan anak.

• Miskin ekonomi, juga miskin waktu dengan anak.

• Miskin ekonomi tetapi kaya waktu dengan anak.

• Kaya secara ekonomi dan juga kaya waktu dengan anak.

Bagaimanapun keadaan ekonomi keluarga kita, ciptakan dan usahakanlah kaya waktu dengan anak. Sebab semakin dekat orangtua dengan anak, maka semakin kuat ikatan emosi anak dengan orangtua. Semakin dekat orangtua dengan anak, maka semakin mudah nasihat dan kesaksian orangtua diterima oleh anak. Semakin jauh orangtua dengan anak, maka semakin rapuh ikatan emosi anak dengan orangtua. Semakin jauh anak dengan orangtua, maka semakin sulit anak menerima masukan, nasihat dan kesaksian orangtua.

Menjadi orangtua adalah satu mandat dari Tuhan. Mengajar anak juga adalah perintah Tuhan. ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anaka-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7).

Dalam ayat ini tersirat pengertian bahwa orangtua harus kaya waktu dengan anak. Karena dalam setiap kesempatan, Tuhan minta kita untuk mengajar anak; ketika sedang duduk di rumah, sedang dalam perjalanan, saat berbaring dan saat bangun. Memang tidak semua orangtua kaya secara materi, tetapi semua orangtua dapat menciptakan waktu-waktu yang bernilai dengan anak.

Setiap orangtua yang kaya waktu menanamkan nilai kebenaran melalui Firman Tuhan maka mereka mengalami: ”Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorak sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:5-6).

Translate