”Karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:29).
Yesus selalu mengundang orang-orang kepada suatu dimensi yang baru dari kehidupan.
“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29)
Di dalam Matius 11:29, Ia mengundang kita untuk menyerahkan keletihan dan beban berat kita kepadaNya karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Di dalam kerendahan hati-Nya, kita dapat menemukan ketenangan dan peristirahatan yang sesungguhnya.
Seluruh kehidupan dan pelayanan Yesus adalah salah satu kerendahan hati. Kelahiran-Nya memiliki suatu pengaturan kerendahan hati yang stabil. Tidak seorang pun yang menghendaki Tuhannya untuk merendahkan diri-Nya dan memasuki dunia manusia sebagai seorang bayi. Ribuan kali bayi-bayi menjadi raja-raja, tetapi hanya ada satu-satunya Raja yang menjadi seorang bayi.
Yesus memberi teladan kerendahan hati. Ia tidak pernah memilih kenyamananNya dan kemapananNya sendiri; melainkan, Ia memilih jalan untuk melayani. Di akhir pelayananNya di bumi, Ia memanggil para Rasul bersama-sama untuk apa yang disebut ”Perjamuan Terakhir.” Para Rasul berargumentasi tentang siapa yang akan menjadi terbesar – mereka ingin menjadi ”pemimpin”. Sebaliknya, bukannya berargumentasi, Yesus mengambil kain lap dan mencuci kaki mereka.
Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.
Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. (Lukas 22:24-27).
Mereka mungkin sukar memahami tindakan rendah hati ini, tetapi pelajaran ini sudah jelas: Hidup yang berkelimpahan berpusat pada kain lap (menjadi pelayan), bukan menjadi pemimpin.
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.
Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”
Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”
Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”
Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”
Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.”
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. (Yohanes 13:1-17).
Gereja adalah Tubuh Kristus, dan sebagai anggota Tubuh Kristus, kita dipanggil untuk melayani dengan rendah hati. Seringkali orang-orang di dalam gereja melakukan hal-hal untuk dikenal dan melihat nama mereka dicantumkan. Tetapi Alkitab berkata penghargaan terbesar akan diberikan kepada mereka yang melayani dengan rendah hati, tanpa menerima kemasyuran.
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3:23-24).
Banyak orang salah mengerti tentang tujuan gereja. Banyak orang datang dan mengevaluasi suatu gereja dengan perspektif / pandangan apa yang gereja itu berikan / tawarkan. Tetapi kita mengalami hidup berkelimpahan ketika kita menguji karunia kita melalui pelayanan dalam kerendahan hati kepada Tuhan. Janganlah kita pergi ke gereja dengan ’lap mulut bayi menunggu untuk disuapi makanan’; sebaliknya kita pergi dengan satu kain celemek untuk masak, siap untuk melayani.
Rasul Paulus menekankan kerendahan hati Yesus dan menulis bahwa Yesus harus menjadi teladan kita dalam kerendahan hati.
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:5-8).
Kita menemukan damai dan sukacita terbesar, ketika kita rendah hati seperti yang Yesus lakukan.
TEMPAT KEDIAMAN ROH KUDUS
( 1 Korintus 3:16)
Salah satu berkat terbesar yang kita terima lewat iman percaya kepada Kristus dan memberi diri dibaptis oleh Roh Kudus adalah Ia menjadikan diri kita menjadi tempat kediaman Roh Allah. Dia yang terlalu besar untuk berdiam di alam semesta bersedia tinggal di dalam kita; dan hadirat-Nya senantiasa dapat kita rasakan. Konsep seperti ini melampaui pemikiran manusia, oleh sebab itu kita harus hati-hati menjaga "tempat" Tuhan berdiam, baik dalam hidup kita sebagai pribadi atau kelompok dalam gereja Tuhan.
"Roh Allah diam di dalam kamu." Kata diam = OIKEO (Bahasa Yunani) artinya "tinggal dengan / tinggal bersama-sama", sebagaimana Allah diam di dalam Tabernakel dalam Perjanjian Lama, demikian pula sekarang Allah diam di dalam orang-orang percaya dengan RohNya.
Beberapa ayat lain yang juga menjelaskan bahwa Roh Allah diam di dalam diri kita, terdapat dalam:
• Roma 8:9 "... Roh Allah diam di dalam kamu ..." dan
• Roma 8:11 "... oleh RohNya, yang diam di dalam kamu."
Paulus menegaskan bahwa dalam diri orang-orang percaya menjadi tempat kediaman Roh Kudus.
Untuk apa Roh Allah berdiam dalam diri kita ?
Gembala Sidang kita Pdt. DR. Ir Niko Njotorahardjo berulang kali menekankan bahwa kita harus bersaksi dengan penuh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8 "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu … dan sampai ke ujung bumi"), dan supaya mengalir suatu kuasa dan tanda-tanda yang heran (Markus 16:17–18) dalam kesaksian kita. Harus dimengerti bahwa orang-orang percaya menjadi pusat dimana Allah bekerja untuk seluruh bumi, dengan kata lain Allah memakai setiap orang percaya untuk menyatakan keajaiban, kekuasaan dan mujizatNya.
Salah satu tanda Gereja yang hidup menjadi lebih hidup ialah dengan mendemonstrasikan dan menyatakan manifestasi kuasa Roh Kudus yang ada dalam dirinya sehingga terjadi mujizat-mujizat yang membuat banyak petobat-petobat baru masuk kedalam bagian Kerajan Allah.
Seperti yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Kitab Yohanes 14:12 "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu ..."
Meskipun kata-kata Tuhan sangat mencengangkan, memang benar sekali bahwa seorang umat percaya di zaman sekarang ini bisa mencapai pekerjaan pelayanan yang lebih besar.
Tinggalnya Roh Kudus dalam diri orang percaya membawa pergerakan dalam kehidupan dan pelayanan yang supranatural, seperti yang terjadi dalam pelayanan Rasul Paulus di Efesus bahwa mujizat-mujizat yang luar biasa dikarenakan oleh orang-orang yang membawa saputangan atau bekas kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit dan keluarlah roh-roh jahat. (Kisah Para Rasul 19:11–12).
Dalam hal ini Paulus menyatakan bahwa kekuatan dan kuasa yang berlimpah-limpah itu bukan dari dirinya, karena dirinya hanya seperti bejana tanah liat tetapi itu berasal dari Allah. (II Korintus 4:7). Dalam konteks ayat ini Paulus memberikan gambaran dirinya bejana tanah liat dan di dalam bejana tanah liat itu ada Harta Rohani yang berkemilauan yaitu Kemuliaan Allah.
Tujuan Allah mendiami diri kita dengan RohNya supaya kita menjadi alatNya untuk menyatakan kuasaNya, tanda-tanda heran, keajaibanNya dan mujizat-mujizatNya; supaya makin banyak jiwa-jiwa yang bertobat dan dimenangkan bagi Tuhan.
Bagaimana supaya kuasa dan mujizat itu termanifestasi kedalam kehidupan yang mengalir melalui pelayanan dan kesaksian kita? Yang pasti pesan Tuhan melalui Gembala Sidang adalah :
1. Lakukan Apa yang Diperintahkan oleh Tuhan Yesus
Yesaya 48:18–19 "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka ..." Apa yang menjadi perintah-perintah Firman Tuhan yang harus kita lakukan hari-hari ini harus menjadi prioritas yang utama untuk segera dan urgent dilakukan, jangan menunda-nunda atau bahkan mengabaikannya. Sebelum kita dapat melakukan maka ada bagian yang penting yang harus diperhatikan yaitu "mendengar suaraNya."
Roh Kudus berbicara secara pribadi maupun korporat dalam kehidupan dan pelayanan untuk dilakukan bagi diriNya. Biarlah setiap kita memiliki telinga seorang murid yang makin peka dan tajam untuk mendengar suara dan perintahNya dan dengan segenap hati melakukannya dengan motivasi yang tulus dan benar.
Dalam buku "God in You" tulisan Dr. David Jeremiah dikisahkan tentang suatu kesaksian oleh Carl Lawrence; yaitu tentang dua wanita Cina muda berusia dua puluhan yang menjadi umat percaya di sebuah gereja bawah tanah, hanya kurang lebih satu minggu kemudian dua wanita ini melaporkan bahwa Allah memanggil mereka untuk pergi melayani di pulau Hainan lepas pantai selatan yang ribuan mil jauhnya. Umat percaya yang lainnya menasehatkan mereka supaya mengikuti pelatihan terlebih dahulu sebelum berangkat, tetapi mereka dipaksa Roh Kudus untuk segera berangkat dan percaya kepada Allah bahwa Ia akan menuntun mereka. Para penatua gereja rumah itu akhirnya setuju memberkati kepergian mereka. Dua tahun kemudian kedua wanita muda ini pulang dan melapor kepada gereja, dengan enggan dan meminta maaf untuk pekerjaan mereka yang kurang berbuah. Rupanya mereka berdua "hanya" memenangkan 3.000 (tiga ribu) orang untuk Kristus dan memulai 30 gereja rumah.
Para pemimpin yang tercengang menanyakan metoda apa yang mereka pakai dan mereka hanya bisa menjawab; "Setiap pagi kami hanya membaca firman Allah dan berdoa, meminta Roh Kudus mengajarkan kami apa yang harus dilakukan. Apapun yang dikatakan Firman Allah kepada kami, itulah yang kami lakukan. Kami hanya patuh."
Jika kita mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya, maka di tahun Multiplikasi dan Promosi ini, Allah juga sanggup melakukannya melalui kita.
2. Bergairah dan Semakin Intim dengan Tuhan Yesus
Dalam catatan harian Daud ditulis bahwa 7 kali sehari, dirinya menghampiri Hadirat Allah, bahkan digambarkan gelora yang ada dalam hatinya melalui Mazmur 63:2 "Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair."
Daniel dalam kehidupannya memiliki kegairahan yang sama dengan Allah yang ditunjukkan dengan konsistensinya 3 kali sehari menghampiri Allah dalam doa, pujian dan penyembahan. Baik ketika sedang dalam pergumulan maupun sedang tidak ada pergumulan; Daniel tetap tekun mencari Allah dalam hidupnya. Seperti kedua gadis tadi, mereka berikan waktunya untuk intim dengan firman, menanyakan apa yang harus mereka lakukan, mendengarkan jawaban dari Roh Kudus dengan peka dan berkomitmen untuk melaksanakan apa yang Tuhan pesankan. Kehidupan yang seperti ini yang hari-hari ini harus menggelora dalam jiwa kita, suatu kehausan dan kelaparan akan Allah yang lebih hebat lagi atau keintiman yang bermultiplikasi dari waktu-waktu yang sebelumnya harus kita bangkitkan dalam diri kita, semakin hari, semakin intim dan mendalam dengan Tuhan Yesus, hal ini menyebabkan aliran urapan dan kuasaNya ke dalam jiwa kita.
Ini menyebabkan Roh-Nya semakin memenuhi seluruh kehidupan rohani kita dengan penuh kemulianNya dan mengalirkan pelayanan yang penuh dengan mujizat.
3. Kebergantungan kepada Tuhan Yesus Setiap Hari
Setiap masalah yang Yesus ijinkan terjadi dalam kehidupan kita memiliki pelajaran dan makna bagi jiwa dan hidup kita. Ada faktor-faktor positif jika kita diijinkan menghadapi banyak persoalan; yaitu agar kita semakin bersandar, berharap, bergantung dan mengandalkan Tuhan. Yeremia 17:7. Jika Tuhan yang kita andalkan dalam segala sesuatu maka berkat yang akan kita terima. Seorang yang bergantung kepada Tuhan seperti seseorang yang membuat kedua tangannya memegang Tangan Tuhan dengan erat-erat dan tak ingin melepaskannya.
Kedua gadis yang memenangkan 3.000 jiwa dalam waktu dua tahun tadi, menyadari akan keterbatasan dengan kemampuan, skill, pengetahuan bahkan pengetahuan teologinya. Yang bisa mereka lakukan hanya mengandalkan Tuhan untuk menuntun, memimpin langkah pelayanannya sehingga dalam waktu 2 tahun berhasil membuka 30 gereja.
Ketika Tuhan melihat bahwa kita memposisikan diri bergantung kepada Dia, dalam pikiran dan tindakan, maka hikmat dan urapan akan mengalir untuk menuntun dan memimpin kita meraih multiplikasi dan promosi.
Roh-Nya yang ada di dalam diri kita akan semakin bebas dan leluasa bergerak kearah dimensi pelayanan yang hebat dan dahsyat bagi Dia. Roh Kudus akan terus berkarya dan menyatakan kuasaNya melalui kita.
4. Mengembalikan Semua Kemuliaan bagi Tuhan Yesus
Ini berkaitan dengan ketulusan dan kejujuran dari hasil pelayanan yang kita lakukan, apakah kembali kepada kemuliaan diri sendiri atau kepada Tuhan Yesus, jika kita membaca Roma 11:36 seperti yang sering ditekankan oleh Gembala kita, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia dan untuk Dia selama-lamanya. Motivasi ini yang memberikan kepercayaan, kuasa. Urapan, kapasitas dan jangkauan pelayanan yang lebih luas dari Tuhan Yesus Kristus.
Ketulusan yang diekspresikan oleh Paulus melalui II Korintus 4:7 tentang dirinya hanyalah bejana dan harta yang indah yang ada di dalamnya yang membuat kuasa Allah melimpah dalam pelayanannya, menunjukkan akan perhormatan, penghargaan dan responnya bahwa itu semua hanya karena Roh Kudus yang ada dalam dirinya; sehingga hanya Yesus saja yang layak mendapatkan segala pujian, hormat dan kemuliaan.
Sikap hanya bagi kemuliaan nama Yesus saja, akan membuat Tuhan semakin mempercayakan perkara-perkara yang besar termasuk berkat yang dahsyat dan promosi di tahun ini.
Roh Kudus ada dalam kehidupan orang-orang yang bersungguh hati percaya kepada Yesus Kristus, hendaklah itu tidak didiamkan, sia-siakan bahkan terkungkung oleh kedangkalan rohani kita, tetapi ijinkan dan kobarkan melalui kehidupan dan pelayanan kita bagi kemuliaan nama Yesus Kristus
Salah satu berkat terbesar yang kita terima lewat iman percaya kepada Kristus dan memberi diri dibaptis oleh Roh Kudus adalah Ia menjadikan diri kita menjadi tempat kediaman Roh Allah. Dia yang terlalu besar untuk berdiam di alam semesta bersedia tinggal di dalam kita; dan hadirat-Nya senantiasa dapat kita rasakan. Konsep seperti ini melampaui pemikiran manusia, oleh sebab itu kita harus hati-hati menjaga "tempat" Tuhan berdiam, baik dalam hidup kita sebagai pribadi atau kelompok dalam gereja Tuhan.
"Roh Allah diam di dalam kamu." Kata diam = OIKEO (Bahasa Yunani) artinya "tinggal dengan / tinggal bersama-sama", sebagaimana Allah diam di dalam Tabernakel dalam Perjanjian Lama, demikian pula sekarang Allah diam di dalam orang-orang percaya dengan RohNya.
Beberapa ayat lain yang juga menjelaskan bahwa Roh Allah diam di dalam diri kita, terdapat dalam:
• Roma 8:9 "... Roh Allah diam di dalam kamu ..." dan
• Roma 8:11 "... oleh RohNya, yang diam di dalam kamu."
Paulus menegaskan bahwa dalam diri orang-orang percaya menjadi tempat kediaman Roh Kudus.
Untuk apa Roh Allah berdiam dalam diri kita ?
Gembala Sidang kita Pdt. DR. Ir Niko Njotorahardjo berulang kali menekankan bahwa kita harus bersaksi dengan penuh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8 "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu … dan sampai ke ujung bumi"), dan supaya mengalir suatu kuasa dan tanda-tanda yang heran (Markus 16:17–18) dalam kesaksian kita. Harus dimengerti bahwa orang-orang percaya menjadi pusat dimana Allah bekerja untuk seluruh bumi, dengan kata lain Allah memakai setiap orang percaya untuk menyatakan keajaiban, kekuasaan dan mujizatNya.
Salah satu tanda Gereja yang hidup menjadi lebih hidup ialah dengan mendemonstrasikan dan menyatakan manifestasi kuasa Roh Kudus yang ada dalam dirinya sehingga terjadi mujizat-mujizat yang membuat banyak petobat-petobat baru masuk kedalam bagian Kerajan Allah.
Seperti yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Kitab Yohanes 14:12 "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu ..."
Meskipun kata-kata Tuhan sangat mencengangkan, memang benar sekali bahwa seorang umat percaya di zaman sekarang ini bisa mencapai pekerjaan pelayanan yang lebih besar.
Tinggalnya Roh Kudus dalam diri orang percaya membawa pergerakan dalam kehidupan dan pelayanan yang supranatural, seperti yang terjadi dalam pelayanan Rasul Paulus di Efesus bahwa mujizat-mujizat yang luar biasa dikarenakan oleh orang-orang yang membawa saputangan atau bekas kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit dan keluarlah roh-roh jahat. (Kisah Para Rasul 19:11–12).
Dalam hal ini Paulus menyatakan bahwa kekuatan dan kuasa yang berlimpah-limpah itu bukan dari dirinya, karena dirinya hanya seperti bejana tanah liat tetapi itu berasal dari Allah. (II Korintus 4:7). Dalam konteks ayat ini Paulus memberikan gambaran dirinya bejana tanah liat dan di dalam bejana tanah liat itu ada Harta Rohani yang berkemilauan yaitu Kemuliaan Allah.
Tujuan Allah mendiami diri kita dengan RohNya supaya kita menjadi alatNya untuk menyatakan kuasaNya, tanda-tanda heran, keajaibanNya dan mujizat-mujizatNya; supaya makin banyak jiwa-jiwa yang bertobat dan dimenangkan bagi Tuhan.
Bagaimana supaya kuasa dan mujizat itu termanifestasi kedalam kehidupan yang mengalir melalui pelayanan dan kesaksian kita? Yang pasti pesan Tuhan melalui Gembala Sidang adalah :
1. Lakukan Apa yang Diperintahkan oleh Tuhan Yesus
Yesaya 48:18–19 "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka ..." Apa yang menjadi perintah-perintah Firman Tuhan yang harus kita lakukan hari-hari ini harus menjadi prioritas yang utama untuk segera dan urgent dilakukan, jangan menunda-nunda atau bahkan mengabaikannya. Sebelum kita dapat melakukan maka ada bagian yang penting yang harus diperhatikan yaitu "mendengar suaraNya."
Roh Kudus berbicara secara pribadi maupun korporat dalam kehidupan dan pelayanan untuk dilakukan bagi diriNya. Biarlah setiap kita memiliki telinga seorang murid yang makin peka dan tajam untuk mendengar suara dan perintahNya dan dengan segenap hati melakukannya dengan motivasi yang tulus dan benar.
Dalam buku "God in You" tulisan Dr. David Jeremiah dikisahkan tentang suatu kesaksian oleh Carl Lawrence; yaitu tentang dua wanita Cina muda berusia dua puluhan yang menjadi umat percaya di sebuah gereja bawah tanah, hanya kurang lebih satu minggu kemudian dua wanita ini melaporkan bahwa Allah memanggil mereka untuk pergi melayani di pulau Hainan lepas pantai selatan yang ribuan mil jauhnya. Umat percaya yang lainnya menasehatkan mereka supaya mengikuti pelatihan terlebih dahulu sebelum berangkat, tetapi mereka dipaksa Roh Kudus untuk segera berangkat dan percaya kepada Allah bahwa Ia akan menuntun mereka. Para penatua gereja rumah itu akhirnya setuju memberkati kepergian mereka. Dua tahun kemudian kedua wanita muda ini pulang dan melapor kepada gereja, dengan enggan dan meminta maaf untuk pekerjaan mereka yang kurang berbuah. Rupanya mereka berdua "hanya" memenangkan 3.000 (tiga ribu) orang untuk Kristus dan memulai 30 gereja rumah.
Para pemimpin yang tercengang menanyakan metoda apa yang mereka pakai dan mereka hanya bisa menjawab; "Setiap pagi kami hanya membaca firman Allah dan berdoa, meminta Roh Kudus mengajarkan kami apa yang harus dilakukan. Apapun yang dikatakan Firman Allah kepada kami, itulah yang kami lakukan. Kami hanya patuh."
Jika kita mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya, maka di tahun Multiplikasi dan Promosi ini, Allah juga sanggup melakukannya melalui kita.
2. Bergairah dan Semakin Intim dengan Tuhan Yesus
Dalam catatan harian Daud ditulis bahwa 7 kali sehari, dirinya menghampiri Hadirat Allah, bahkan digambarkan gelora yang ada dalam hatinya melalui Mazmur 63:2 "Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair."
Daniel dalam kehidupannya memiliki kegairahan yang sama dengan Allah yang ditunjukkan dengan konsistensinya 3 kali sehari menghampiri Allah dalam doa, pujian dan penyembahan. Baik ketika sedang dalam pergumulan maupun sedang tidak ada pergumulan; Daniel tetap tekun mencari Allah dalam hidupnya. Seperti kedua gadis tadi, mereka berikan waktunya untuk intim dengan firman, menanyakan apa yang harus mereka lakukan, mendengarkan jawaban dari Roh Kudus dengan peka dan berkomitmen untuk melaksanakan apa yang Tuhan pesankan. Kehidupan yang seperti ini yang hari-hari ini harus menggelora dalam jiwa kita, suatu kehausan dan kelaparan akan Allah yang lebih hebat lagi atau keintiman yang bermultiplikasi dari waktu-waktu yang sebelumnya harus kita bangkitkan dalam diri kita, semakin hari, semakin intim dan mendalam dengan Tuhan Yesus, hal ini menyebabkan aliran urapan dan kuasaNya ke dalam jiwa kita.
Ini menyebabkan Roh-Nya semakin memenuhi seluruh kehidupan rohani kita dengan penuh kemulianNya dan mengalirkan pelayanan yang penuh dengan mujizat.
3. Kebergantungan kepada Tuhan Yesus Setiap Hari
Setiap masalah yang Yesus ijinkan terjadi dalam kehidupan kita memiliki pelajaran dan makna bagi jiwa dan hidup kita. Ada faktor-faktor positif jika kita diijinkan menghadapi banyak persoalan; yaitu agar kita semakin bersandar, berharap, bergantung dan mengandalkan Tuhan. Yeremia 17:7. Jika Tuhan yang kita andalkan dalam segala sesuatu maka berkat yang akan kita terima. Seorang yang bergantung kepada Tuhan seperti seseorang yang membuat kedua tangannya memegang Tangan Tuhan dengan erat-erat dan tak ingin melepaskannya.
Kedua gadis yang memenangkan 3.000 jiwa dalam waktu dua tahun tadi, menyadari akan keterbatasan dengan kemampuan, skill, pengetahuan bahkan pengetahuan teologinya. Yang bisa mereka lakukan hanya mengandalkan Tuhan untuk menuntun, memimpin langkah pelayanannya sehingga dalam waktu 2 tahun berhasil membuka 30 gereja.
Ketika Tuhan melihat bahwa kita memposisikan diri bergantung kepada Dia, dalam pikiran dan tindakan, maka hikmat dan urapan akan mengalir untuk menuntun dan memimpin kita meraih multiplikasi dan promosi.
Roh-Nya yang ada di dalam diri kita akan semakin bebas dan leluasa bergerak kearah dimensi pelayanan yang hebat dan dahsyat bagi Dia. Roh Kudus akan terus berkarya dan menyatakan kuasaNya melalui kita.
4. Mengembalikan Semua Kemuliaan bagi Tuhan Yesus
Ini berkaitan dengan ketulusan dan kejujuran dari hasil pelayanan yang kita lakukan, apakah kembali kepada kemuliaan diri sendiri atau kepada Tuhan Yesus, jika kita membaca Roma 11:36 seperti yang sering ditekankan oleh Gembala kita, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia dan untuk Dia selama-lamanya. Motivasi ini yang memberikan kepercayaan, kuasa. Urapan, kapasitas dan jangkauan pelayanan yang lebih luas dari Tuhan Yesus Kristus.
Ketulusan yang diekspresikan oleh Paulus melalui II Korintus 4:7 tentang dirinya hanyalah bejana dan harta yang indah yang ada di dalamnya yang membuat kuasa Allah melimpah dalam pelayanannya, menunjukkan akan perhormatan, penghargaan dan responnya bahwa itu semua hanya karena Roh Kudus yang ada dalam dirinya; sehingga hanya Yesus saja yang layak mendapatkan segala pujian, hormat dan kemuliaan.
Sikap hanya bagi kemuliaan nama Yesus saja, akan membuat Tuhan semakin mempercayakan perkara-perkara yang besar termasuk berkat yang dahsyat dan promosi di tahun ini.
Roh Kudus ada dalam kehidupan orang-orang yang bersungguh hati percaya kepada Yesus Kristus, hendaklah itu tidak didiamkan, sia-siakan bahkan terkungkung oleh kedangkalan rohani kita, tetapi ijinkan dan kobarkan melalui kehidupan dan pelayanan kita bagi kemuliaan nama Yesus Kristus
Langganan:
Postingan (Atom)