MENJELANG KEDATANGAN TUHAN YESUS

“Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci, dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” (Filipi 1:10-11)

Tuhan Yesus segera datang. Dia sangat ingin segera menjemput dan mengangkat kita ke dalam kemuliaanNya. Waktu yang sedang kita jalani hari-hari ini adalah masa menjelang HARI KRISTUS. Kita harus berjaga-jaga dan harus mengerti tanda-tandanya. Bahwa kita telah siap menjelang kedatanganNya itu yang seperti apa? Ketika Tuhan Yesus datang kembali, maka yang Dia ingin temukan adalah kita didapati dalam keadaan suci, tidak bercacat dan berbuah kebenaran. Firman Tuhan katakan dalam Filipi 1:10-11 “... supaya kamu suci, dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran ...”

TUHAN YESUS YANG MENGERJAKAN

Dan semua itu terjadi karena Tuhan Yesus yang mengerjakan di dalam diri kita. Kita tidak akan mampu hidup suci dengan kekuatan kita sendiri. Kita tidak dapat menghasilkan buah kebenaran dari kemampuan manusiawi kita. Hanya oleh karena Tuhan Yesus yang mengerjakan di dalam kita, barulah kita mampu mengerjakannya. Itulah artinya ‘oleh karena anugerahNya’. Yesus yang terlebih dahulu mengerjakan di dalam kita, barulah kemudian kita mengerjakannya keluar. Yesus yang terlebih dahulu bekerja di dalam manusia batiniah kita, kemudian kita bertindak dalam ketaatan. Dan semua itu kita akan alami karena pekerjaan Roh Kudus yang diam di dalam hati kita.

Karena itu kita harus mengandalkan Roh Kudus untuk dapat melakukan kehendak Tuhan dengan benar. Kita harus mengenal Roh Kudus secara pribadi, bergaul lebih dalam dan mengandalkan kekuatanNya. Ketika Roh Kudus bekerja, maka hasilnya adalah; menjelang kedatangan Tuhan Yesus kita akan menjadi seperti yang Dia inginkan.

OLEH KUASA ROH KUDUS

Kita sedang berada di minggu-minggu pasca pencurahan Roh Kudus. Pada tangal 23 Mei 2010 yang lalu Gereja Merayakan Hari Pencurahan Roh Kudus, yaitu Hari Raya Pentakosta. Apa yang terjadi 2.000 tahun yang lalu di loteng atas Yerusalem, baru saja kita peringati.

Karena mengalami pencurahan Roh Kudus, maka hidup para murid di Yerusalem diubahkan secara nyata. Rasul Petrus yang tadinya penakut dan menyangkal Tuhan Yesus, tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat berani. Dia tidak takut mati buat Tuhan Yesus, dan dia memiliki belas kasihan yang Illahi di hatinya bagi orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Mereka berubah dari orang-orang yang bersembunyi menjadi saksi Kristus yang sangat nyata. Ini semua terjadi karena kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam mereka.

Ketika Tuhan berbicara tentang Roh Kudus, Tuhan berkata, lebih baik Yesus kembali kepada Bapa di sorga, supaya Roh Kudus itu datang ke dalam hidup kita (Yohanes 16:7). Selanjutnya Tuhan katakan: ”Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu ...” (Kisah Para Rasul 1:8).

Roh Kudus telah dikaruniakan dan tinggal di dalam kita. Kuasa Roh Kudus ada di dalam kita, sehingga kita menerima kuasa (kekuatan dan kemampuan) untuk bisa menjadi saksi Kristus. Sejak mengalami dipenuhi Roh Kudus, kuasa dan karunia Roh Kudus itu nyata di dalam hidup kita. Kesaksian pribadi yang saya alami adalah : saat pertama kali saya dipenuhi Roh Kudus, saya mengalami sukacita yang begitu melimpah dan sangat kuat mengalir. Sukacita yang seperti itu belum pernah saya alami. Itu berlangsung cukup lama. Penuh kegairahan untuk berdoa dan memuji Tuhan. Baik dengan nyanyian akal budi, maupun bermazmur dalam Roh. Hadirat Tuhan begitu riil. Penyertaan Tuhan begitu nyata dirasakan. Pengalaman berjalan bersama dengan Kristus yang begitu nyata membuat kita dapat menceritakan dan bersaksi tentang apa yang Tuhan Yesus telah buat dalam hidup kita melalui karya Roh Kudus.

GAYA HIDUP YANG MENJADI KESAKSIAN

Perubahan di dalam gaya hidup juga terjadi akibat mengalami dipenuhi Roh Kudus. Salah satu wujud ‘menjadi saksi Kristus’ adalah gaya hidup kita. Hidup yang menghasilkan kebaikan sebagai buah Roh Kudus di dalam kita akan memuliakan Tuhan. Ini adalah kesaksian melalui gaya hidup.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat.” (Filipi 4:4-5).

Gaya hidup yang didukung kuasa Roh Kudus akan dilihat oleh orang lain, dan membuat orang menaruh hormat dan mengaku, bahwa ada hidup Yesus yang nampak nyata di dalam kita. Hidup kita menjadi berbeda dari orang lain, tidak serupa dengan orang dunia. Ada sifat Kristus yang Illahi tercermin dari hidup kita. Ada kebaikan Tuhan Yesus yang mengalir keluar dari hidup kita. Mereka merasakan buah kebaikan dari hati yang murni. Gaya hidup kita menghadirkan inspirasi bagi orang lain, dan membuat orang lain teringat akan Yesus. Ketika orang bertemu dengan kita, yang terbayang adalah, ada Tuhan Yesus yang mengendalikan dan mengatur perilaku kita. Tuhan menghendaki kita membangun gaya hidup yang seperti itu.

Ketika orang-orang di kantor kita menanyakan adakah hari ini masih ada orang yang mau berdiri tegak di atas kebenaran, lalu dengan mudah mereka akan mengenali, ya ada! Hidup kita dikenali dengan jelas. Kita tegak di atas kebenaran dalam segala situasi. Ada garis batas yang tegas di antara kebenaran dan ‘kompromi dengan dunia’. Sementara korupsi telah merasuki budaya dan moral bangsa kita ini, orang mengenali kita sebagai orang yang telah merdeka dari ‘cinta uang’. Kita benar-benar berbeda dengan dunia. Tidak ada lagi tersisa akar cinta uang dalam bentuk apapun. Ketika dibutuhkan orang yang setia dan dapat dipercaya dalam keuangan, mereka tidak susah menemukan dan menentukan siapa orang tersebut.

SIKAP HATI YANG MEMBERI RESPONS

Apa yang Roh Kudus kerjakan akan menjadi nyata di dalam hidup kita ketika kita memberi respon yang benar. Bagaimanakah seharusnya sikap kita supaya mengalami karya Roh Kudus di dalam kita?

Segala yang firman katakan dan janjikan harus ditanggapi dengan iman. Hati yang terbuka dan rela adalah awal yang menentukan untuk iman bekerja di hati kita. Roh Kudus yang akan mengajarkan kebenaran dan yang membawa kita ke dalam kebenaran ketika kita terbuka dan rela.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; ...” (Yohanes 16:13).

“Tetapi Penghibur yaitu Roh Kudus, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan yang akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26).

Roh Kudus adalah Roh Kebenaran. Jadi Dia yang menghadirkan kebenaran di hati kita. Kita yang tadinya tidak mengerti kebenaran Tuhan, disadarkan olehNya. Kita lebih mudah menyadari bila ada yang salah, lalu kita jadi lebih peka untuk mengerti kebenaran Tuhan. Orang yang mengerti apa yang salah karena mengenal kebenaran akan mudah bertobat ketika hatinya terbuka dan rela dikoreksi. Akibatnya dia dapat hidup dalam kebenaran.

Tuhan menghendaki kebenaran dalam batin. Bukan hanya kebenaran dan kesalehan yang terlihat di luar. Hati yang remuk dan patah adalah hati yang bisa dibentuk ulang oleh Tuhan menjadi hati yang benar dan berkenan kepadaNya.

“Sesungguhnya Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin ...

Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; ...

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kaupandang hina ya Allah.” (Mazmur 51:8, 18-19).

Hati yang mau terbuka dan rela dikoreksi Roh Kudus adalah hati yang akan menangkap kebenaran Allah. Hati yang seperti inilah yang akan dituntun Roh Kudus untuk masuk ke dalam kebenaran. Ketika hati kita remuk dengan jiwa yang hancur dalam pertobatan, maka tidak akan ada sisa pembenaran diri kita lagi. Yang tersisa adalah ketulusan yang murni. Maka kita pasti bisa dibentuk ulang untuk memiliki hati yang serupa dengan hati Yesus.

Hasilnya adalah kita berbuah dalam kebenaran seperti yang Tuhan inginkan. Hidup kita menjadi suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.

KELUARGA YANG SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN KRISTUS

Keluarga adalah lembaga pertama dan yang tertua Allah ciptakan dalam dunia ini. Sebelum ada lembaga-lembaga lain seperti satu bangsa dan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan lembaga keluarga. Karena Allah mau semua lembaga-lembaga yang ada dibangun di atas keluarga yang benar. Keluarga adalah inti masyarakat yang terkecil. Sedangkan inti dari keluarga adalah pasangan suami isteri. Selanjutnya anak-anak adalah berkat yang Tuhan tambahkan dan berikan.

Hubungan pasangan suami isteri adalah gambaran hubungan Kristus dengan jemaat (Efesus 5:32). Hubungan yang indah antara Kristus dengan jemaat, Allah gambarkan melalui hubungan suami isteri yang intim dan mesra, sehingga dapat dilihat oleh dunia ini. Sehingga tidak heran sejak keluarga pertama yakni keluarga Adam dan Hawa menjadi sasaran utama dari serangan iblis. Sebab:
• Satu keluarga memiliki dampak yang luar biasa.
• Satu keluarga yang telah mengalami pemulihan dapat berdampak membawa pemulihan kepada satu komunitas.
• Satu komunitas yang telah dipulihkan dapat berdampak kepada satu kota.
• Kota yang telah dipulihkan kemudian dapat berdampak kepada satu bangsa, yang akhirnya berdampak kepada bangsa-bangsa.
Semuanya diawali dari satu keluarga. Sebaliknya satu keluarga yang bobrok dan hancur juga dapat berdampak secara negatif kepada satu komunitas, kota, bangsa dan sampai kepada bangsa-bangsa.

Pesan Tuhan yang begitu kuat pada hari-hari terakhir ini ialah: “Aku akan datang segera”. Sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya, memang iblis bekerja ekstra keras untuk menghancurkan keluarga. Sebab jika keluarga hancur dampaknya sangat luas ke berbagai aspek dalam bidang kehidupan masyarakat yang lain. Berbagai cara dipakai iblis untuk menghancurkan keluarga, seperti mengaburkan fungsi atau peran orang tua, suami isteri. Begitu banyak para orangtua tidak lagi melakukan perannya secara maksimal untuk mendidik anak-anak mereka (Ulangan 6:4-9).
Orangtua bekerja dari pagi sampai malam, sehingga anak bertumbuh sendiri. Kurangnya waktu bagi suami isteri curhat secara terbuka, demikian juga antara orangtua dengan anak yang membuat ikatan emosional antara sesama anggota keluarga begitu rapuh.

Apa yang harus dilakukan oleh anggota keluarga sebelum kedatanganNya kedua kali?
Setiap keluarga harus menjadi saksi Kristus, hidup intim dan kudus dengan Tuhan. Mengerti kehendak dan rencana Allah, sehingga siap menyambut kedatangan Kristus (Kisah Para Rasul 1:8).
Apa yang harus dilakukan keluarga untuk mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Kristus sehingga menjadi saksiNya?

Tiga hal yang penting dilakukan oleh keluarga untuk menjadi saksi Kristus:

1. ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36)
Setiap anggota keluarga perlu menyadari, bahwa keluarga berasal dari Allah, oleh Allah, kepada Allah, dan untuk kemuliaan Allah. Karena itu ketika keluarga diciptakan, Allah membuat pola untuk setiap keluarga demi kebahagiaan dan kelanggengan keluarga itu.

a. Pola Allah untuk suami
Allah menetapkan suami sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, berarti suami bertanggungjawab memimpin mezbah keluarga dan merawat kerohanian setiap anggota keluarga. Sebagai imam, suami bertanggung jawab untuk mengerti apa pesan dan kehendak Tuhan bagi setiap anggota keluarganya. Sebagai raja, suami berarti sebagai pemimpin tertinggi, kepala dalam struktur satu keluarga. Suami sebagai penanggung jawab terakhir dalam satu keluarga. Sebagai kepala berarti siap menjadi contoh, panutan, teladan bagi seluruh anggota keluarganya.
Apakah Anda sebagai suami telah menerapkan pola Allah tersebut?

b. Pola Allah untuk isteri
Allah menetapkan istri sebagai penolong, pendamping dan penghibur. Penolong bukan berarti lebih tinggi atau lebih rendah, tetapi sederajat (Kejadian 1:27).
Tetapi Allah memberikan pengurapan sebagai penolong yang memiliki hal-hal khusus yang tidak dimiliki oleh pria. Sebagai pendamping, berarti isteri dan suami tidak boleh berpisah kecuali untuk sementara waktu (1 Korintus 7:5).
Kehadiran Hawa mendampingi Adam membuat Adam menjadi maksimal dalam tangan Tuhan. Seorang suami yang baik sangat senang apabila didampingi oleh isterinya. Dalam kamus umum bahasa Indonesia tidak ada pria penghibur, tetapi yang ada wanita penghibur, walaupun pengertiannya negatif. Tetapi bagi seorang isteri, peran penghibur tidak pernah dicabut oleh Tuhan. Hanya setelah setelah seorang isteri dipulihkan, orientasi yang dihibur adalah suaminya sendiri dan anggota keluarganya.
Apakah Anda sebagai isteri telah menerapkan pola Allah tersebut?

c. Pola Allah untuk anak
Anak-anak wajib menghormati orang tua dan menaati dalam segala hal (Keluaran 20:12, Efesus 6:1-3).
Menghormati mengandung pengertian, selalu bertanya kepada orangtua sebelum mengambil keputusan yang prinsipil. Tidak pernah bertanya kepada orangtua adalah salah satu pemberontakan anak terhadap orangtua.
Tuhan telah memberikan otoritas bagi orangtua untuk mendidik anak, karena itu setiap anak belajar menghargai otoritas yang Allah berikan bagi orangtua.Apakah Anda sebagai anak telah menerapkan pola Allah tersebut?

Setiap anggota keluarga perlu menyadari, bahwa keluarga berasal dari Allah, sehingga semua pola yang Allah tetapkan bertujuan agar apapun yang dilakukan atau dikerjakan semua harus bermuara untuk kemuliaan Allah.

2. Agar setiap anggota keluarga berbuah
Sebab Tuhan telah memilih kita untuk menghasilkan buah (Yohanes 15:16).

a. Suami yang berbuah
Kasihnya kepada Allah terus bertumbuh, mengasihi isterinya dan anak-anaknya walaupun ada hal-hal yang tidak disenangi, mudah memaafkan isteri, memberi teladan yang baik bagi seluruh keluarganya. Karakternya baik, komitmennya tinggi, kompetensinya bertumbuh.

b. Isteri yang berbuah
Siap menundukkan diri dalam kepemimpinan suami dengan kelebihan dan kekurangannya, memaksimalkan potensi suami dan anak-anak, tidak membiarkan hatinya terluka, membangun rumahnya dengan bijak (Amsal 31:10-31).

c. Anak yang berbuah
Dalam kondisi yang bagaimanapun, selalu menghormati dan menaati orangtua.
Suami, isteri dan anak yang berbuah memiliki karakter yang baik, komitmen yang tinggi terhadap keluarga dan kompetensi yang bertumbuh.

3. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1)
Persembahan, dalam bahasa Inggris memakai istilah ‘sacrifice’, berarti korban. Persembahan berarti harus ada korban. Tidak ada persembahan tanpa kurban. Suami, isteri dan anak dalam keluarga harus siap memberikan korban. Korban itu sesuatu yang tidak mudah, sakit.
Tiap anggota keluarga berbeda dengan keunikan yang Allah ciptakan. Untuk menciptakan ‘unity’ dalam keluarga, perlu pengorbanan, saling peduli, saling memaafkan tanpa hitung-hitungan. Mengasihi berarti siap terluka. Mengasihi berarti kadang dilukai dan melukai, tetapi siap mengampuni, kemudian cintanya bertambah dalam lagi. Itulah kehidupan.

Tuhan Yesus akan datang segera, biarlah setiap keluarga semuanya siap menjadi saksi Kristus dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, untuk Allah, bagi kemulianNya. Dengan karakter yang baik, komitmen yang tinggi dan kompetensi yang bertumbuh keluarga berbuah, sehingga dapat memberikan persembahan yang hidup bagi Dia.

Translate