SHARING SUPPLEMENT COOL
DESEMBER 2011 – MINGGU #1
BERSIAP DALAM PEPERANGAN ROHANI!
Jika kita ingin melihat pertobatan satu bangsa seperti halnya pada saat jaman nabi Elia, maka salah satu kunci yang disampaikan oleh TUHAN melalui Gembala Sidang / Pembina kita adalah “menantang nabi-nabi baal”, dengan kata lain kita harus melakukan peperangan rohani. Apakah yang dimaksud dengan peperangan rohani? Apakah sama seperti peperangan pada saat para pahlawan merebut kemerdekan? Tentunya berbeda. Mengenai peperangan rohani, Firman TUHAN berkata :
“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” ~ Efesus 6:12
Sederhananya, peperangan rohani adalah peperangan yang kita lakukan didalam menghadapi iblis dan antek-anteknya yang selama ini menguasai suatu wilayah atau mengikat orang-orang di suatu wilayah tertentu sehingga mereka menjadi ‘buta’ dan ‘tuli’ secara rohani. Dengan melakukan peperangan rohani, kita sedang membersihkan ‘atmosfir rohani’ satu wilayah, sehingga terang KRISTUS bercahaya dan jiwa-jiwa mengalami perjuampaan dengan TUHAN YESUS.
Mungkin sebagaian Bapak/Ibu berpikir, “Ohh..ini kan tugasnya pendeta dan para pengerja, bukan saya..., saya mah jemaat”. Ini waktunya jemaat COOL bangkit dan menjadi pasukan doa yang diurapi dan dipakai TUHAN luar biasa. Mau-tidak mau, siap-tidak siap, sadar-tidak sadar keseharian kita selalu diperhadapkan pada peperangan rohani, karena iblis selalu berusaha untuk mencuri, membunuh, serta membinasakan umat percaya. Itu sebabnya kita semua harus masuk didalam peperangan rohani. Beberapa hal yang perlu kita perhatikan didalam peperangan rohani :
1. Persiapan dalam peperangan rohani.
a. Berpegang teguh pada janji TUHAN dan Firman TUHAN (Ef 6:10).
Jangan takut untuk masuk dalam peperangan rohani! Beberapa janji TUHAN yang harus kita pegang agar kita kuat dalam peperangan rohani:
o Markus 16:17 “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,...”
o 1 Yoh 4:4 “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”
o Yakobus 4:7 “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
o Roma 8:37-39 “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
b. Mengenakan Selengkap senjata ALLAH (Efesus 6:11; 13-18).
Perlengkapan senjata ALLAH adalah senjata yang diberikan kepada kita untuk mempertahankan diri dan untuk menyerang. Karenanya senjata harus diambil sebelum hari peperangan, sehingga ketika serangan dan godaan datang, kita mampu berdiri dan tidak dapat disergap tanpa persiapan. Kenakanlah senjata ALLAH tersebut dengan lengkap.
Diskusi :
Siapkah saudara menghadapi peperangan rohani? Sharingkan kendala-kendala yang anda hadapi dan temukan jawabannya dalam kelompok.
2. Cara peperangan rohani.
Dalam peperangan rohani, cara peperangannya juga tentunya secara rohani. Ada tiga cara peperangan rohani yang dapat kita lakukan dalam kelompok COOL :
• Doa, Pujian dan Penyembahan : mengubah atmosfir rohani disekitar kita.
• Kubu Doa : kelompok doa yang terdiri dari 3-4 orang disetiap wilayah.
• Doa Keliling : berdoa sambil mengelilingi area yang menjadi target doa kita (bisa area dimana COOL berada atau area yang rencananya akan dibuka COOL yang baru.
Proyek Ketaatan:
Sudahkah COOL anda melakukan peperangan rohani (Kubu Doa dan Doa Keliling)? Buatlah komitmen dan rencana bersama anggota COOL untuk mempraktekkan peperangan rohani ini. Mulailah dengan pokok doa berikut: agar jiwa-jiwa yang membutuhkan TUHAN dan Mujizat-Nya dapat datang dalam acara KKR Healing Movement di Gelora Bung Karno tanggal 24 Desember 2011. Jika ada kenalan, sanak saudara yang TUHAN taruh dalam hatimu untuk anda ajak, doakan orang tersebut agar hatinya dijamah TUHAN dan ia mau datang bersama dengan anda.
3. Pasca Peperangan Rohani.
“...supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.“ (Efesus 6:13)
Pemenang dalam sebuah pertempuran adalah mereka yang tetap berdiri setelah pertempuran berakhir. Untuk itu kita harus tetap waspada dan berjaga-jaga, karena musuh masih bisa menyerang kembali (Lukas 4:13), lagi pula seringkali kemenangan bisa membuat orang terlena. Ingat yang dialami oleh Daud? Setelah mengalami kemenagan lepas kemenangan, Daud terlena. Disaat musim berperang dimana raja-raja maju berperang, Daud ada di atas sotoh istananya. Disanalah Daud mulai tergoda dan jatuh dalam dosa perzinahan (2 Sam 11-12).
Diskusi :
Bagaimana cara kita untuk terus waspada dan berjaga-jaga? Mulailah mengatur anggota-anggota COOL untuk membentuk partner doa (2-3 orang) agar mereka bisa saling mendoakan.
Mari kita bersiap dalam peperangan rohani dan menuai jiwa-jiwa bagi KRISTUS! [DL/2011]
Keluarga Cinta TUHAN vs Keluarga Cinta Uang
Yos 24:15, Kis 5:1-11
Keluarga adalah lembaga yang sangat penting di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menetapkan manusia sebagai single fighter dalam hidupnya, itu sebabnya Dia menciptakan keluarga sebagai mitra Allah untuk mengusahakan dan memelihara ciptaanNya, Kej 2:15. Keluarga juga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan inti dari masyarakat ialah keluarga dan inti dari keluarga ialah suami isteri. Anak, menantu, dan cucu adalah berkat yang Tuhan tambahkan.
Keluarga juga menjadi tempat pembelajaran yang pertama dan yang terutama. Seorang anak belajar berbicara dimulai di rumah. Nilai-nilai yang kita miliki sampai saat ini besar hubungannya dengan nilai-nilai yang telah kita terima dari orangtua sejak masa kecil sampai dewasa.
Keberadaan satu keluarga sangat ditentukan oleh suami isteri. Suami isteri yang cinta Tuhan pasti akan mendidik anak-anaknya untuk mencintai Tuhan, sehingga lahirlah keluarga-keluarga yang mengasihi Tuhan. Sebaliknya suami isteri yang jahat, tidak akan memperhatikan masalah-masalah rohani, melainkan hanya berfokus kepada uang. Jika ini yang terjadi maka segala cara akan dilakukan demi memperoleh uang. Cara hidup keluarga seperti ini, akan melahirkan keluarga-keluarga yang jahat.
Agar dapat membedakan keluarga yang cinta Tuhan dan keluarga yang cinta uang, maka perhatikanlah ciri-ciri dari kedua jenis keluarga seperti berikut ini:
I. Keluarga yang Cinta Tuhan
1. Hidupnya Berfokus Kepada Tuhan
Hidup yang berfokus kepada Tuhan bukan berarti tidak melakukan apa-apa, tetapi tetap melakukan kegiatan dan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Hanya perbedaannya ketika melakukan apa saja, dilakukan untuk Tuhan.
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:17, 23)
2. Hidupnya Untuk Kemuliaan Tuhan
Seluruh aktifitas kehidupannya dilakukan dengan tujuan yang mulia yakni semuanya untuk kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Pekerjaannya digunakan untuk memuliakan Tuhan. Seluruh materi dan fasilitas yang dimiliki semuanya digunakan demi kebesaran Tuhan. Bahkan setiap kemampuan yang dimiliki, disadari penuh semuanya berasal dari Tuhan, karena itu harus dikembalikan untuk kemuliaan namaNya. Setiap kepercayaan, promosi, posisi, jabatan, fasilitas, semuanya hanya untuk kemuliaan Tuhan. (Roma 11:36)
3. Hidupnya Menjadi Saluran Berkat
Dengan kesadaran penuh bahwa semua fasilitas yang dimiliki berasal dari Tuhan, maka ia juga dengan sukacita menjadi saluran berkat. Menjadi saluran berkat memiliki pengertian yang sangat luas.
Pengertian berkat di sini tidak terbatas hanya dalam pengertian materi, tetapi juga bersifat rohani. Menjadi saluran berkat, bukan untuk memperoleh berkat yang lebih besar, tetapi karena sudah memperoleh berkat yang luar biasa dari Tuhan. Berkat terbesar bukan berkat materi, tetapi berkat keselamatan yang pasti di dalam Tuhan Yesus. (Yoh 1:12; 3:16, 1 Yoh 5:11-12).
Maka dengan sukacita ia memberikan persembahan persepuluhan, persembahan syukur, persembahan diakonia, persembahan misi, dan lain-lain.
• Memberi adalah satu kehormatan, bukan keterpaksaan.
• Memberi tidak selalu karena berlebihan, tetapi menjadi saluran berkat di waktu kekurangan memiliki nilai dan bobot yang paling mulia.
Ingat persembahan janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus, bukan orang kaya yang memberi dari kelebihannya.
4. Hidupnya Dinikmati dengan Sukacita
Kehidupan yang berfokus kepada Tuhan, adalah kehidupan yang digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi saluran berkat akan berkelimpahan dengan sukacita. Menikmati adalah salah satu karunia dari Tuhan, pemberianNya bagi umat Tuhan yang hidupnya berkenan kepadaNya.
“Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkhotbah 6:2). Ada banyak orang memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki karunia untuk menikmatinya. Sebaliknya ada orang yang sederhana, tetapi beroleh karunia untuk menikmati.
5. Hidup dengan Tubuh yang Lebih Sehat
Tubuh yang sehat bukanlah tujuan, tetapi merupakan sarana untuk lebih memuliakan Tuhan. Tubuh yang sehat berawal dari kehidupan dan pola hidup yang benar. Pola hidup yang benar mencakup keseimbangan kehidupan roh, jiwa dan tubuh, 1 Tes 5:23. Keseimbangan dalam tiga area ini akan menghasilkan Roh yang perkasa, jiwa yang tenang dan tubuh yang sehat.
II. Ciri-ciri Keluarga yang Cinta Uang
1. Fokus Kepada Uang
Semua kegiatan, pekerjaan, kepandaian dan kekuatan yang dimiliki seluruhnya digunakan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Prinsipnya: “semakin banyak uang semakin bahagia.”
• Pikirannya selalu dikusai oleh uang.
• Menilai orang lain pun dari sisi uang.
• Kadangkala cara untuk memperoleh uang tidak terlalu dipermasalahkan, walaupun bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran.
Yang terpenting mendapat dan memiliki uang sebanyak-banyaknya.
Ingat kisah Ananias dan Safira yang mendustai Tuhan melalui hambaNya, dan akhirnya mati seketika. (Kis. 5:1-11)
2. Memuaskan Keinginannya Sendiri
Semua keberadaan kehidupannya digunakan untuk mencapai kepuasan dirinya sendiri. Uang, fasilitas, kemampuan, kesempatan yang diperoleh dan dikumpulkan semuanya hanya untuk memuaskan keinginannya. Keinginan memuaskan diri sendiri ini melahirkan keluarga-keluarga yang egois.
3. Mengumpulkan Harta / Berkat Sebanyak-banyaknya
Kehidupan yang dipusatkan kepada diri sendiri, tidak akan pernah sampai dititik kepuasan. Usaha yang keras dan maksimal dilakukan tanpa henti untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Waktu untuk bekerja demi mengumpulkan uang merupakan prioritas utama dan yang pertama dalam kehidupannya. Keluarga menjadi terlantar, tidak terkontrol, dan anak-anak tidak memiliki waktu yang cukup dengan orang tua. Keadaan ini melahirkan keluarga yang rapuh, pecah dan berantakan.
4. Tidak Dapat Menikmati Hidup
Hidup di luar Tuhan memang tidak dapat dinikmati. Jikalau kehidupan hanya difokuskan kepada uang dan pekerjaan, tidak ada waktu untuk Tuhan, maka hasilnya hanya kuatir, gelisah dan ketakutan. Seberapa banyakpun uang yang dimiliki tanpa Tuhan menghasilkan hidup yang tidak tenang.
5. Lebih Sering Sakit
Kekuatiran, kegelisahan dan ketakutan merupakan sumber penyakit yang sangat dominan pada hari-hari terakhir ini. Ditambah pula dengan gaya hidup yang tidak benar, pola makan yang salah, membuat kehidupan sangat rentan dengan sakit penyakit.
Fokus kepada Tuhan atau fokus kepada uang adalah pilihan.
• Kaya bukanlah tujuan, tetapi akibat dari mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Mat 6:33.
• Memiliki uang tidaklah salah, tetapi yang dilarang Tuhan janganlah cinta uang. 1 Tim 6:10.
Pilihlah hari ini untuk fokus kepada Tuhan, maka hidupmu pasti diberkati, janganlah fokus kepada uang.
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).
Keluarga adalah lembaga yang sangat penting di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menetapkan manusia sebagai single fighter dalam hidupnya, itu sebabnya Dia menciptakan keluarga sebagai mitra Allah untuk mengusahakan dan memelihara ciptaanNya, Kej 2:15. Keluarga juga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan inti dari masyarakat ialah keluarga dan inti dari keluarga ialah suami isteri. Anak, menantu, dan cucu adalah berkat yang Tuhan tambahkan.
Keluarga juga menjadi tempat pembelajaran yang pertama dan yang terutama. Seorang anak belajar berbicara dimulai di rumah. Nilai-nilai yang kita miliki sampai saat ini besar hubungannya dengan nilai-nilai yang telah kita terima dari orangtua sejak masa kecil sampai dewasa.
Keberadaan satu keluarga sangat ditentukan oleh suami isteri. Suami isteri yang cinta Tuhan pasti akan mendidik anak-anaknya untuk mencintai Tuhan, sehingga lahirlah keluarga-keluarga yang mengasihi Tuhan. Sebaliknya suami isteri yang jahat, tidak akan memperhatikan masalah-masalah rohani, melainkan hanya berfokus kepada uang. Jika ini yang terjadi maka segala cara akan dilakukan demi memperoleh uang. Cara hidup keluarga seperti ini, akan melahirkan keluarga-keluarga yang jahat.
Agar dapat membedakan keluarga yang cinta Tuhan dan keluarga yang cinta uang, maka perhatikanlah ciri-ciri dari kedua jenis keluarga seperti berikut ini:
I. Keluarga yang Cinta Tuhan
1. Hidupnya Berfokus Kepada Tuhan
Hidup yang berfokus kepada Tuhan bukan berarti tidak melakukan apa-apa, tetapi tetap melakukan kegiatan dan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Hanya perbedaannya ketika melakukan apa saja, dilakukan untuk Tuhan.
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:17, 23)
2. Hidupnya Untuk Kemuliaan Tuhan
Seluruh aktifitas kehidupannya dilakukan dengan tujuan yang mulia yakni semuanya untuk kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Pekerjaannya digunakan untuk memuliakan Tuhan. Seluruh materi dan fasilitas yang dimiliki semuanya digunakan demi kebesaran Tuhan. Bahkan setiap kemampuan yang dimiliki, disadari penuh semuanya berasal dari Tuhan, karena itu harus dikembalikan untuk kemuliaan namaNya. Setiap kepercayaan, promosi, posisi, jabatan, fasilitas, semuanya hanya untuk kemuliaan Tuhan. (Roma 11:36)
3. Hidupnya Menjadi Saluran Berkat
Dengan kesadaran penuh bahwa semua fasilitas yang dimiliki berasal dari Tuhan, maka ia juga dengan sukacita menjadi saluran berkat. Menjadi saluran berkat memiliki pengertian yang sangat luas.
Pengertian berkat di sini tidak terbatas hanya dalam pengertian materi, tetapi juga bersifat rohani. Menjadi saluran berkat, bukan untuk memperoleh berkat yang lebih besar, tetapi karena sudah memperoleh berkat yang luar biasa dari Tuhan. Berkat terbesar bukan berkat materi, tetapi berkat keselamatan yang pasti di dalam Tuhan Yesus. (Yoh 1:12; 3:16, 1 Yoh 5:11-12).
Maka dengan sukacita ia memberikan persembahan persepuluhan, persembahan syukur, persembahan diakonia, persembahan misi, dan lain-lain.
• Memberi adalah satu kehormatan, bukan keterpaksaan.
• Memberi tidak selalu karena berlebihan, tetapi menjadi saluran berkat di waktu kekurangan memiliki nilai dan bobot yang paling mulia.
Ingat persembahan janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus, bukan orang kaya yang memberi dari kelebihannya.
4. Hidupnya Dinikmati dengan Sukacita
Kehidupan yang berfokus kepada Tuhan, adalah kehidupan yang digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi saluran berkat akan berkelimpahan dengan sukacita. Menikmati adalah salah satu karunia dari Tuhan, pemberianNya bagi umat Tuhan yang hidupnya berkenan kepadaNya.
“Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkhotbah 6:2). Ada banyak orang memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki karunia untuk menikmatinya. Sebaliknya ada orang yang sederhana, tetapi beroleh karunia untuk menikmati.
5. Hidup dengan Tubuh yang Lebih Sehat
Tubuh yang sehat bukanlah tujuan, tetapi merupakan sarana untuk lebih memuliakan Tuhan. Tubuh yang sehat berawal dari kehidupan dan pola hidup yang benar. Pola hidup yang benar mencakup keseimbangan kehidupan roh, jiwa dan tubuh, 1 Tes 5:23. Keseimbangan dalam tiga area ini akan menghasilkan Roh yang perkasa, jiwa yang tenang dan tubuh yang sehat.
II. Ciri-ciri Keluarga yang Cinta Uang
1. Fokus Kepada Uang
Semua kegiatan, pekerjaan, kepandaian dan kekuatan yang dimiliki seluruhnya digunakan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Prinsipnya: “semakin banyak uang semakin bahagia.”
• Pikirannya selalu dikusai oleh uang.
• Menilai orang lain pun dari sisi uang.
• Kadangkala cara untuk memperoleh uang tidak terlalu dipermasalahkan, walaupun bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran.
Yang terpenting mendapat dan memiliki uang sebanyak-banyaknya.
Ingat kisah Ananias dan Safira yang mendustai Tuhan melalui hambaNya, dan akhirnya mati seketika. (Kis. 5:1-11)
2. Memuaskan Keinginannya Sendiri
Semua keberadaan kehidupannya digunakan untuk mencapai kepuasan dirinya sendiri. Uang, fasilitas, kemampuan, kesempatan yang diperoleh dan dikumpulkan semuanya hanya untuk memuaskan keinginannya. Keinginan memuaskan diri sendiri ini melahirkan keluarga-keluarga yang egois.
3. Mengumpulkan Harta / Berkat Sebanyak-banyaknya
Kehidupan yang dipusatkan kepada diri sendiri, tidak akan pernah sampai dititik kepuasan. Usaha yang keras dan maksimal dilakukan tanpa henti untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Waktu untuk bekerja demi mengumpulkan uang merupakan prioritas utama dan yang pertama dalam kehidupannya. Keluarga menjadi terlantar, tidak terkontrol, dan anak-anak tidak memiliki waktu yang cukup dengan orang tua. Keadaan ini melahirkan keluarga yang rapuh, pecah dan berantakan.
4. Tidak Dapat Menikmati Hidup
Hidup di luar Tuhan memang tidak dapat dinikmati. Jikalau kehidupan hanya difokuskan kepada uang dan pekerjaan, tidak ada waktu untuk Tuhan, maka hasilnya hanya kuatir, gelisah dan ketakutan. Seberapa banyakpun uang yang dimiliki tanpa Tuhan menghasilkan hidup yang tidak tenang.
5. Lebih Sering Sakit
Kekuatiran, kegelisahan dan ketakutan merupakan sumber penyakit yang sangat dominan pada hari-hari terakhir ini. Ditambah pula dengan gaya hidup yang tidak benar, pola makan yang salah, membuat kehidupan sangat rentan dengan sakit penyakit.
Fokus kepada Tuhan atau fokus kepada uang adalah pilihan.
• Kaya bukanlah tujuan, tetapi akibat dari mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Mat 6:33.
• Memiliki uang tidaklah salah, tetapi yang dilarang Tuhan janganlah cinta uang. 1 Tim 6:10.
Pilihlah hari ini untuk fokus kepada Tuhan, maka hidupmu pasti diberkati, janganlah fokus kepada uang.
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15).
Langganan:
Postingan (Atom)